BONTANG – Pabrik Ammonia Pabrik-2 milik PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) yang telah beroperasi lebih dari empat dekade, kini memasuki fase transformasi penting. Melalui program Revamping yang diresmikan PT Pupuk Indonesia (Persero) pada Kamis (29/1/2026), pabrik tertua ini beralih dari teknologi konvensional menuju sistem produksi modern yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Revitalisasi ini bukan hanya soal memperbarui peralatan, melainkan menjawab tantangan besar industri pupuk di tengah tekanan global: lonjakan kebutuhan pangan, isu energi, serta tuntutan penurunan emisi karbon.
Hasilnya, konsumsi gas berhasil dipangkas hingga 4 MMBtu per ton amonia lebih dari 10 persen dibandingkan sebelumnya yang berdampak langsung pada efisiensi biaya dan pengurangan emisi karbon sekitar 110 ribu ton CO₂ per tahun.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyebut langkah ini sebagai upaya menjaga kesinambungan pasokan pupuk nasional. Menurutnya, ketahanan pangan tidak bisa dilepaskan dari kesiapan industri pupuk dalam menghadapi perubahan zaman.
“Pabrik yang andal dan efisien adalah fondasi bagi petani untuk terus berproduksi,” ujarnya.
Proyek yang dimulai sejak November 2023 ini mencakup penggantian peralatan vital, mulai dari shift converter hingga sistem CO₂ removal. Seluruh operasi kini terintegrasi dengan sistem digital berbasis Distributed Control System (DCS), memungkinkan pengawasan real-time dan pengendalian proses yang lebih akurat. Modernisasi ini sekaligus memperpanjang usia operasional pabrik hingga 15 tahun mendatang.
Selama ini, Pabrik-2 menjadi salah satu penopang utama produksi Pupuk Kaltim dengan kapasitas 595 ribu ton amonia dan 570 ribu ton urea per tahun. Dengan teknologi baru, peran strategis tersebut diharapkan semakin optimal untuk menjawab kebutuhan pupuk nasional yang terus meningkat.
Transformasi ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025, yang mendorong percepatan revitalisasi industri pupuk nasional dengan skema subsidi yang lebih fleksibel dan adaptif.
Dalam peta jalan lima tahun ke depan, Pupuk Indonesia telah menyiapkan serangkaian proyek lanjutan, mulai dari revitalisasi Pusri 3B, pengembangan NPK Phonska VI di Petrokimia Gresik, hingga pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak.
Direktur Utama Pupuk Kaltim, Gusrizal, menegaskan bahwa revamping ini merupakan investasi strategis jangka panjang. Menurutnya, efisiensi produksi dan pemanfaatan teknologi mutakhir akan memastikan ketersediaan pupuk nasional secara berkelanjutan.
Langkah ini mendapat dukungan luas dari pemangku kepentingan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai modernisasi industri pupuk sebagai syarat mutlak menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Sementara Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto menekankan bahwa keberlanjutan industri pupuk berkaitan langsung dengan masa depan petani dan kedaulatan pangan nasional.
Dengan transformasi Pabrik Ammonia Pabrik-2, Pupuk Kaltim menunjukkan bahwa pabrik lama pun mampu beradaptasi dan menjadi bagian penting dari solusi pangan Indonesia di masa depan.
Reporter : Lutfi Aziz





